Kamis, 10 April 2014

Tannin sebagai bahan pewarna alami makanan



PEMANFAATAN TANIN DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava)
SEBAGAI PEWARNA MAKANAN ALAMI
Noor Innayati
ABSTRAK
Daun jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makan alami.Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung tanin, minyak atsiri (eugenol), minyak lemak, dammar, zat samak, triterpenoid, asam malat.  Tanin yang tekandung dalam daun jambu biji lah yang dapat memberikan warna merah kecoklatan pada makanan yang biasa dimanfaatkan untuk pembuatan masakan tradisonal seperti gudeg dan telur pindang . tanin  merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman . Tanin tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan makromolekul lainya. Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat .

Kata kunci : daun jambu biji, tanin, pewarna alam

PENDAHULUAN
            Dalam kehidupannya, makhluk hidup membutuhkan makanan, karena darimakanan manusia mendapatkan berbagai zat yang diperlukan oleh tubuh untuk dapat bekerja dengan optimal. Makanan yang kita makan bukan saja harus memenuhi nilai gizi dan mempunyai bentuk yang menarik, akan tetapi juga harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit .
Perkembangan ilmu teknologi pangan menyebabkan berkembangnya berbagai cara pengolahan makanan yang pada umumnya menggunakan bahan tambahan makanan. Penambahan bahan makanan tersebut misalnya dapat berupa zat pewarna makanansintetis.
            Zat pewarna makanan sintesis pada makanan masih  dipertanyakan di kalangankonsumen. Penampilan makanan, termasuk warnanya, sangat berpengaruh untuk menggugahselera. Penambahan zat pewarna pada makanan bertujuan agar makanan lebih menarik, sehinggaKita harus berhati hati dalam memilih makanan olahan, karena tidak jarang makanan yang dijual ternyata diolah memakai zat warna yang bukan untuk pewarna makanan.
            Bahan pewarna saat ini memang sudah tidak bisa dipisahkan dari makanandan minuman olahan. Berbagai makanan yang dijual di toko, warung dan parapedagang keliling hampir selalu menggunakan bahan pewarna. Warna ini biasanya menyesuaikan dengan rasa yang ingin ditampilkan pada produk tersebut. Misalnya untuk rasa jeruk diberi warna oranye, rasa stroberi dengan warna merah, rasa nanas dengan warna kuning, rasa leci dengan warna putih, rasa anggur dengan warna ungu, rasa pandan dengan warna hijau, dan seterusnya. Ada juga industri yang mencampur dua jenis pewarna dalam proses produksinya untuk menghasilkan warna merah yang tidak terlalu terang (biasanya dicampur dengan pewarna orange/kuning)
            Zat pewarna sendiri secara luas digunakan di seluruh dunia. Di Indonesia, sejak dahulu orang banyak menggunakan pewarna makanan tradisional yang berasal dari bahan alami, misalnya kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau, dan daun jambu untuk warna merah. Pewarna alami ini aman dikonsumsi namun mempunyai kelemahan, yakni ketersediaannya terbatas dan warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok digunakan untuk industri makanan dan minuman. Kemajuan teknologi pangan memungkinkan zat pewarna dibuat secara sintetis. Dalam jumlah yang sedikit, suatu zat kimia bisa memberi warna yang stabil pada produk pangan. Dengan demikian produsen bisa menggunakan lebih banyak pilihan warna untuk menarik perhatian konsumen.
            Menurut Husodo (2006) terdapat kurang lebih 150 jenis pewarna alami di Indonesia yang telah diidentifikasi dan digunakan secara luas dalam berbagai industri . Pewarna alami bisa diperoleh dengan cara ekstraksi dari tanaman yang banyak terdapat di sekitar. Umumnya zat warna alam terbentuk dari kombinasi tiga unsur, yaitu karbon, hidrogen dan oksigen, tetapi ada beberapa zat warna yang mengandung unsur lain seperti nitrogen pada indigotin dan magnesium pada klorofil. Jaringan tumbuhan seperti bunga, batang, kulit, kayu, biji, buah, akar dan kayu mempunyai warna – warna karakteristik yang disebut pigmen dalam botani (Lemmens & Soetjipto, 2009).
Salah satu jenis pewarna makanan alami yang aman untuk digunakan  yaitu daun jambu biji yang dapat memberikan warna merah sampai coklat.Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung tannin, minyak atsiri (eugenol), minyak lemak, dammar, zat samak, triterpenoid, asam malat (Dalimartha, 2004). Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagaisenyawa polipenol yang mempunyai berat molekultinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan guguslainnya (seperti karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan protein (Danarto, dkk., 2011). Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin merupakan senyawa yang dapat larut dalamair, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidaklarut dalam petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan Lewis, 2011).
            Senyawa tanin yang terkandung di dalam daun jambu biji dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pewarna makanan alami yang dapat memberikan warna merah kecoklatan . tanin  merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman . Tanin tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan makromolekul lainya.
            Dengan menggunakan daun jambu biji dan daun jati yang masih muda , dapat memberikakn warna merah sampai coklat pada masakan .warna merah kecoklatan yang dihasilkan lebih alami daripada warna yang dihailkan ketika menggunakan pewarna sintesis .semakin tinggi kesadaran konsumen untuk mendapatkan makanan yang alami, membuat zat warna asli jauh lebih disenangi untuk digunakan dalam pengolahan makanan. Banyak warna cemerlang yang dimiliki oleh tanaman dan hewan bisa digunakan sebagai pewarna tambahan makanan. Sehingga pewarna sintesis dapat di tinggalkan. Dan untuk mengethui manfaat tanin pada daun jambu biji sebagai pewarna maknana alami maka perlu di adakan pengkajian ulang melallui beberapa penelitian

GAMBARAN KHUSUS

Kondisi Kekinian

Fenomena penggunaan pewarna buatan/sintetik pada makanan kini semakin meluas dan sudah sangat banyak kita temui di lingkunan sekitar . Alasan para produsen makanan lebih menggunakan pewarna sintetis daripada pewarna alami karena dua faktor. Pertama, adalah masalah harga. Pewarna kimia tersebut dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pewarna alami. Masalah ini tentu saja sangat diperhatikan oleh produsen, mengingat daya beli masyarakat Indonesia yang masih cukup rendah. Faktor kedua adalah stabilitas. Pewarna sintetis memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik, sehingga warnanya tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan. Sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Pewarna sintetis merupakan zat aditif yang ditambahkan pada makanan yangbertujuan untuk memperbaiki warna dari makanan.  Pewarna sintetis  terbuatdari bahan-bahan kimia yang beraneka ragam dan memiliki sifat yang stabil.Penggunaan pewarna sintetis di industri makanan saat ini sangat besar, hampir90% industri makanan memilih menggunakan pewarna sintetis. Banyaknya produsenmakanan memilih penggunaan pewarna sintetis dikarenakan harga yang terjangkaudan kepraktisannya.  Pewarna sintetisterbuat dari bahan-bahan kimia yang asing bagi tubuh. Jika pewarna digunakan secaraberlebihan maka system kerja tubuh bisa mengalami gangguan karena banyaknyakandungan bahan-bahan kimia asing dalam tubuh. Penggunaan zat warna sintetis ini dapat menimbulkan masalah kesehatan dan membahayakan kesehatan manusia serta lingkungan hidup karena bersifat karsinogenik yang menyebabkan kanker kulit pada manusia dan dapat merusaklingkungan (Winarno dan Laksmi, 2009).
                Zat warna alami adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh  dari tumbuhan, hewan, atau dari sumber-sumber mineral. Zat  warna ini telah sejak dahulu digunakan untuk pewarna makanan  dan sampai sekarang umumnya penggunaannya dianggap lebih  aman daripada zat warna sintetis. Selain itu penelitian toksikologi  zat warna alami masih agak sulit karena zat warna ini umumnya  terdiri dari campuran dengan senyawa-senyawa alami lainnya. Umumnya  pewarna alami aman untuk digunakan dalam jumlah yang besar sekalipun , berbeda dengan pewarna sintesis yang demi keamanan penggunaannya harus di batasi. Pewarna makanan alami sendiri memiliki kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan pewarna sintesis. Pewarna makanan alami aman untuk dikonsumsi dan tidak berbahaya bagi tubuh . selain itu, pewarna makanan juga memiliki nila gizi sehingga dapat menambahkan nilai gizi pada produk makanan tersebut.
                Salah satu bahan pewarna makanan alami yang biasa digunakan adalah Daun jambu biji yang biasa digunakan untuk memberi warna merah kecoklatan pada telur pindang dan gudeg. Daun jambu biji mengandung tannin, minyak atsiri (eugenol), minyak lemak, dammar, zat samak, triterpenoid, asam malat (Dalimartha, 2004). Kandungan dari daun jambu biji yang dapat  memberikan warna ketika dimanfaatkan menjadi pewarna makanan alami adalah “tanin”.Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagaisenyawa polipenol yang mempunyai berat molekultinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan guguslainnya (seperti karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan protein (Danarto, dkk., 2011).
Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin merupakan senyawa yang dapat larut dalamair, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidaklarut dalam petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan Lewis, 2012)

Deskripsi Tanaman
            Jambu biji berasal dari Amerika tropik, tumbuh pada tanah yang gembur maupun liat, pada tempat terbuka dan mengandung air cukup banyak. Pohon ini banyak ditanam sebagi pohon buah-buahan. Namun, sering tumbuh liar dan dapat ditemukan pada ketinggian 1-1200 m di atas permukaan laut. Jambu bji berbunga sepanjang tahun. Sekarang tanaman ini sudah menyebar luas ke seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Diperkirakan terdapat sekitar 150 spesies Psidium yang menyebar ke daerah tropis dan berhawa sejuk (Hapsoh dan Hasanah, 2011).

Klasifikasi
Tanaman jambu biji (Psidium guajava) dalam sistematika dunia tumbuhan
diklasifikasikan menjadi seperti di bawah ini:

Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Familia : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spessies :Psidium guajava, L.( Cronquist,2004).

Nama Daerah
Sumatera: glima breueh (Aceh), galiman (Batak Karo), masiambu (Nias), biawas, jambu krutuk, jambu krikil, jambu biji, jambu klutuk (Melayu). Jawa: jambu klutuk (Sunda), hambu bhender (Madura). Sotong (Bali), guawa (Flores), goihawas (Sika). Sulawesi: gayawas (Manado), dambu (Gorontalo), jambu paratugala (Makasar). Maluku: luhu hatu (Ambon), gayawa (Ternate, Halmahera) (Hapsoh dan Hasanah, 2011).

Morfologi Tumbuhan Jambu Biji
Tumbuhan jambu biji termasuk jenis perdu atau pohon kecil, tinggi 2-10m,percabangan banyak. Batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna cokelat kehijauan. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan, daun muda berambut halus, permukaan atas daun tua licin. Helaian daun berbentuk bulat telur agak jorong, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata agak melekuk ke atas, pertulangan menyirip, panjang 6-14 cm, lebar 3-6 cm, berwarna hijau. Buah tunggal, bertangkai, keluar dari ketiak daun, berkumpul 1-3 bunga, berwarna putih. Buahnya berbentuk bulat sampai bulat telur, berwarna hijau sampai hijau kekuningan. Daging buah tebal, buah yang masak bertekstur lunak, berwarna putih kekuningan atau merah jambu. Biji banyak mengumpul di tengah, kecil-kecil, keras, berwarna kuning kecokelatan (Hapsoh dan Hasanah, 2011)
images.jpgdownload.jpg
Gambar 1  daun psidium guajavaGambar 2 batang dan buah
psidiumguajava

download (1).jpg
Gambar 3 bunga psidium guajava

Ekstraksi
Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Hasil ekstraksi disebut dengan ekstrak, yaitu sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan. Simplisia yang digunakan dalam proses pembuatan ekstrak adalah bahan alamiah yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2009).
            Metode yang digunakan untuk mengekstrak daun jambu biji adalah merebus daun jambu biji dengan pelarut air dalam kurun waktu tertentu. Waktu ekstraksi pada proses pembuatan ekstrak daun jambu biji sangat mempengaruhi jumlah kandungan tanin yang didapat. Proses ekstraksi yang terlalu lama akan mengakibatkan rusaknya kandungan tanin sehingga tanin pada ekstrak daun jambu biji tidak mampu lagi memberikan warna (Jatmikoningtyas, 2004). Proses ekstraksi yang terlalu singkat akan menghasilkan kandungan tanin yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikaji waktu ekstraksi yang optimal sehingga menghassilkan  ekstrak daun jambu biji yang memiliki sifat fisik dan kimia yang baik serta aman untuk dikonsumsi.

Penentuan Kadar tanin
Tanin merupakan senyawa utama yang terdapat pada dan jambu biji yang dapat digunakan sebagai obat diare. Rerata kandungan tanin ekstrak daun jambu biji berkisar antara 3,25 % – 8,98 % (Tabel-1). Tanin yang dihasilkan dalam bentuk ekstrak daun jambu biji memiliki perbedaan yang sangat nyata (a=0,01).

Tabel 1. Rerata kandungan tanin ekstrak daun jambu biji pada berbagai waktu ekstraksi
Waktu ekstraksi(menit)
Rerata kadar tanin (%)
BNT 5%
5
3,25 a
0,43
10
6,25 d
15
8,98 f
20
7,11 e
25
4,96 c
30
3,91 b


Keterangan: Notasi yang berbeda berarti berbeda nyata BNT 5%
Kandungan tanin ekstrak daun jambu biji cenderung mengalami
peningkatan pada awal waktu ekstraksi sampai pada titik optimal, kemudian peningkatan waktu ekstraksi akan cenderung menurunkan kandungan tanin. Hal ini dikarenakan pada awal proses ekstraksi seluruh senyawa dalam daun terutama tanin akan terekstrak keluar dan bercampur dengan pelarut (air), dan setelah mencapai titik optimal beberapa senyawa yang terdapat dalam bahan akan mengalami penurunan. Disamping itu penurunan tanin diduga juga disebabkan kerusakan tanin akibat proses hidrolisis selama proses (ekstraksi) dan pemanasan yang berlangsung terus menerus. Tanin dapat terhidrolisis menjadi glukosa dan asam tanat (Anonymous, 2005).
Dari Gambar 4.1.dapat diketahui bahwa pada waktu ekstraksi antara 15 – 20 menit dapat menghasilkan ekstrak daun jambu biji dengan kandungan tertinggi yaitu sekitar 0,45 g, dan setelah 20 menit kandungan tannin mengalami penurunan.
Capture.PNG
Gambar4 Grafik hubungan antara waktu ekstraksi dan tanin ekstrak daun jambu biji


UPAYA PROMOSI YANG DI LAKUKAN
            Daun jambu biji  yang memiliki kandungan tanin yang cukup tinggi di rekomendasikan sebagai bahan pewarna makanan alami yang aman untuk dikonsumsi. Daun jambu biji yang di gunakan adalah daun jambu biji yang masih muda yaitu 3 daun yang berada di pucuk . waktu ekstraksi sangat berpengaruh terhadap hasil ekstraksi yang dilakukan . apabila terlalu lama dalam melakukan proses ekstraksi maka kandungan tanin akan semakin sedikit . sebaliknya, apabila proses ekstraksi terlalu lama maka kandungan tanin tidak akan optimal sehingga diperlukan waktu yang sesuai agar jumlah tanin yang di dapatkan  optimal. Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagaisenyawa polipenol yang mempunyai berat molekultinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan guguslainnya (seperti karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan protein (Danarto, dkk., 2011).  Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin merupakan senyawa yang dapat larut dalamair, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidaklarut dalam petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan Lewis, 2009).           
            Proses pengambilan tanin dapat dilakukan dengan cara ekstraksi yaitu kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Secara sederhana proses ekstraksi dapat dialakukan dengan cara  merebus daun jambu biji dengan pelarut air dalam kurun waktu tertentu. Waktu ekstraksi pada proses pembuatan ekstrak daun jambu biji sangat mempengaruhi jumlah kandungan tanin yang didapat. Proses ekstraksi yang terlalu lama akan mengakibatkan rusaknya kandungan tanin sehingga tanin pada ekstrak daun jambu biji tidak mampu lagi memberikan warna (Jatmikoningtyas, 2006). Proses ekstraksi yang terlalu singkat akan menghasilkan kandungan tanin yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikaji waktu ekstraksi yang optimal sehingga menghassilkan  ekstrak daun jambu biji yang memiliki sifat fisik dan kimia yang baik serta aman untuk dikonsumsi.
            Proses ekstraksi yang dapat dilakukan dengan mudah, dan warna yang dihailkan lebih alami serta tidak mempengaruhi rasa pada hasil masakan , maka daun jambu biji sangatlah baik untuk dapat dijadikan senbagai bahan pewarna makanan alami . dengan menggunakan pewarna alami dari daun jambu biji makanan ataupun masakan yang di hasilkan tidak berbahaya bagi tubuh karena menggunakan pewarna alami.

UPAYA PREVENTIF
            Upaya preventif  yang dilakukan dalam gagasan ini yaitu dengan memanfaatkan tanin yang diperoleh dari daun jambu biji muda (3 daun yang bearda di pucuk) . Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagai senyawa polipenol yang mempunyai berat molekul tinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan gugus lainnya (seperti karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan protein (Danarto, dkk., 2011).
Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin merupakan senyawa yang dapat larut dalam air, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidak larut dalam petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan Lewis, 1989)
Proses pengambilan tanin dari daun jambu biji dapat dilakukan dengan cara ekstraksi yaitu kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Secara sederhana proses ekstraksi dapat dialakukan dengan cara  merebus daun jambu biji dengan pelarut air dalam kurun waktu tertentu. Waktu ekstraksi pada proses pembuatan ekstrak daun jambu biji sangat mempengaruhi jumlah kandungan tanin yang didapat. Proses ekstraksi yang terlalu lama akan mengakibatkan rusaknya kandungan tanin sehingga tanin pada ekstrak daun jambu biji tidak mampu lagi memberikan warna (Jatmikoningtyas, 2001). Proses ekstraksi yang terlalu singkat akan menghasilkan kandungan tanin yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikaji waktu ekstraksi yang optimal sehingga menghassilkan  ekstrak daun jambu biji yang memiliki sifat fisik dan kimia yang baik serta aman untuk dikonsumsi.

Pewarna almi sendiri ditambahkan dalam makan bertujuan untuk 1) mengembalikan warna makanan yang berubah akibat pengolahan menggunakan panas ke warna aslinya 2) menyeragamkan warna makanan yang berbeda karena pengaruh alami 3) meningkatkan warna makanan yang oleh konsumen warnanya tersebut selalu diasosiasikan dengan flafonnya 4) memberikan penampilan yang menarik terhadap makanan 5) melindungi identitas makanan dan 6) sebagai indikasi visual mutu
Kita ketahui bahwa menggunakan pewarna alami lebih baik dan tidak membahayakan bagi tubuh bila dibandingkan dengan menggunakan pewarna sintesis. Untuk itu daun jambu biji dimanfaatkan sebagai bahan pewarna makanan alami . dalm hal ini daun jambu biji banyak dimanfaatkan untuk memberikan warna merah sampai kecoklatan pada masakan tradisonal misalnya pada gudeg dan telur pindang. Melalui proses ekstraksi tanin yang dapat  memberikan pewarna alami bagi makanan di ambil . setelah melakukan ekstraksi , ekstrak daun jambu biji yang mengandung tanin dapat disimpan dalam bentuk kemasan ataupun dengan memanfaatkannya secara langsung setelah proses esktraksi. Secara sederhana proses ekstraksi dapat dialakukan dengan cara  merebus daun jambu biji dengan pelarut air dalam kurun waktu tertentu akan tetapi perlu di ingat  bahwa Proses ekstraksi yang terlalu singkat akan menghasilkan kandungan tanin yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikaji waktu ekstraksi yang optimal sehingga menghassilkan  ekstrak daun jambu biji yang memiliki sifat fisik dan kimia yang baik serta aman untuk dikonsumsi.

DAFTAR PUSTAKA
Anggraini,S.2010.optimasi formula fast disintegrating tabletekstrak daun jambu
            biji (psidium guajava l.) dengan bahan penghancur sodium starch glycolate
            dan bahanpengisi manitol(skripsi).surakarta:universitas muhammadiyah
            surakarta.

Anonim.2012. Jambu Biji (Psidium guajava).
           
http://www.agribisnis.deptan.go.id/pustaka/teknopro/leafleat%20No%20
            5.htm Tanggal Akses April 2014


Departemen Kesehatan, 1989. Vademakum Bahan Obat Alam. Dirjen POM
            Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. hal 84-86.

Harbelubun, A dkk.2005.Tumbuhan pewarna alami dan pemanfaatannya secara
            tradisional oleh suku marori men-gey di taman nasional wasur
kabupaten
                merauke.jurnal penelitian
Volume 6, Nomor 4 Oktober 2005
           
Halaman: 281-284

Heyne. K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia. Jilid III. Badan Litbang
            Kehutanan, Jakarta. hal 1506-1507.

Husodo, T. 1999. Peluang Zat Pewarna Alami untuk Pengembangan Produk
            Industri Kecil dan Menengah Kerajinan dan Batik.
Yogyakarta:
            Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Rudi,N.2009.Tanin pada Daun jabu biji (Psidium guajava L.) (Kajian Variasi         Pelarut). (Skripsi). Malang : Universitas Islam Negeri Mualana Malik        Ibrahim Malang.
Sudarmadji, S., B. Haryono, dan Suhardi. 2005. Prosedur Analisa untuk Bahan
            Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta.
Sukardi, Mulyarto,R.,dan Safera,W.2007.Optimasi Waktu Ekstraksi Terhadap
            Kandungan Tanin Pada Bubuk Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidii folium)
            Serta Biaya Produksinya.
Jurnal Teknologi Pertanian, Vol 8 No.2

Wibowo, A. 2003. Identifikasi Jenis-jenis Tumbuhan Penghasil Warna Alami
            dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Suku Hatam di Kampung
            Mbenti Distrik Anggi Kabupaten Manokwari
. [Skripsi]. Manokwari:
            Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar