PEMANFAATAN
TANIN DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava)
SEBAGAI
PEWARNA MAKANAN ALAMI
Noor Innayati
ABSTRAK
Daun jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah
satu jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makan alami.Daun
jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung tanin, minyak atsiri (eugenol),
minyak lemak, dammar, zat samak, triterpenoid, asam malat. Tanin yang tekandung dalam daun jambu biji
lah yang dapat memberikan warna merah kecoklatan pada makanan yang biasa
dimanfaatkan untuk pembuatan masakan tradisonal seperti gudeg dan telur pindang
. tanin merupakan salah satu senyawa
metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman .
Tanin tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk
senyawa kompleks dengan makromolekul lainya. Menurut teori warna, struktur
tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai
kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat
warna) dapat menyebabkan warna coklat .
Kata kunci :
daun jambu biji, tanin, pewarna alam
PENDAHULUAN
Dalam kehidupannya, makhluk hidup
membutuhkan makanan, karena darimakanan manusia mendapatkan berbagai zat yang
diperlukan oleh tubuh untuk dapat bekerja dengan optimal. Makanan yang kita makan
bukan saja harus memenuhi nilai gizi dan mempunyai bentuk yang menarik, akan
tetapi juga harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan
kimia yang dapat menyebabkan penyakit .
Perkembangan
ilmu teknologi pangan menyebabkan berkembangnya berbagai cara pengolahan
makanan yang pada umumnya menggunakan bahan tambahan makanan. Penambahan bahan
makanan tersebut misalnya dapat berupa zat pewarna makanansintetis.
Zat pewarna makanan sintesis pada
makanan masih dipertanyakan di kalangankonsumen.
Penampilan makanan, termasuk warnanya, sangat berpengaruh untuk menggugahselera.
Penambahan zat pewarna pada makanan bertujuan agar makanan lebih menarik,
sehinggaKita harus berhati hati dalam memilih makanan olahan, karena tidak
jarang makanan yang dijual ternyata diolah memakai zat warna yang bukan untuk
pewarna makanan.
Bahan pewarna saat ini memang sudah
tidak bisa dipisahkan dari makanandan minuman olahan. Berbagai makanan yang
dijual di toko, warung dan parapedagang keliling hampir selalu menggunakan
bahan pewarna. Warna ini biasanya menyesuaikan dengan rasa yang ingin
ditampilkan pada produk tersebut. Misalnya untuk rasa jeruk diberi warna
oranye, rasa stroberi dengan warna merah, rasa nanas dengan warna kuning, rasa
leci dengan warna putih, rasa anggur dengan warna ungu, rasa pandan dengan
warna hijau, dan seterusnya. Ada juga industri yang mencampur dua jenis pewarna
dalam proses produksinya untuk menghasilkan warna merah yang tidak terlalu
terang (biasanya dicampur dengan pewarna orange/kuning)
Zat pewarna sendiri secara luas
digunakan di seluruh dunia. Di Indonesia, sejak dahulu orang banyak menggunakan
pewarna makanan tradisional yang berasal dari bahan alami, misalnya kunyit
untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau, dan daun jambu untuk warna
merah. Pewarna alami ini aman dikonsumsi namun mempunyai kelemahan, yakni
ketersediaannya terbatas dan warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok
digunakan untuk industri makanan dan minuman. Kemajuan teknologi pangan
memungkinkan zat pewarna dibuat secara sintetis. Dalam jumlah yang sedikit,
suatu zat kimia bisa memberi warna yang stabil pada produk pangan. Dengan
demikian produsen bisa menggunakan lebih banyak pilihan warna untuk menarik
perhatian konsumen.
Menurut Husodo (2006) terdapat
kurang lebih 150 jenis pewarna alami di Indonesia yang telah diidentifikasi dan
digunakan secara luas dalam berbagai industri . Pewarna alami bisa diperoleh
dengan cara ekstraksi dari tanaman yang banyak terdapat di sekitar. Umumnya zat
warna alam terbentuk dari kombinasi tiga unsur, yaitu karbon, hidrogen dan
oksigen, tetapi ada beberapa zat warna yang mengandung unsur lain seperti
nitrogen pada indigotin dan magnesium pada klorofil. Jaringan tumbuhan seperti
bunga, batang, kulit, kayu, biji, buah, akar dan kayu mempunyai warna – warna
karakteristik yang disebut pigmen dalam botani (Lemmens & Soetjipto, 2009).
Salah satu jenis pewarna makanan alami yang aman
untuk digunakan yaitu daun jambu biji
yang dapat memberikan warna merah sampai coklat.Daun jambu biji (Psidium
guajava L.) mengandung tannin, minyak atsiri (eugenol), minyak lemak, dammar,
zat samak, triterpenoid, asam malat (Dalimartha, 2004). Tanin secara ilmiah
didefinisikan sebagaisenyawa polipenol yang mempunyai berat molekultinggi dan
mempunyai gugus hidroksil dan guguslainnya (seperti karboksil) sehingga
dapatmembentuk kompleks dengan protein (Danarto, dkk., 2011). Menurut teori
warna, struktur tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada
polifenol sebagai kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai
auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan warna coklat (Wijaya, dkk., 2011).
Tanin merupakan senyawa yang dapat larut dalamair, gliserol, alkohol, dan
hidroalkohol, tetapi tidaklarut dalam petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan
Lewis, 2011).
Senyawa tanin yang terkandung di
dalam daun jambu biji dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pewarna makanan alami
yang dapat memberikan warna merah kecoklatan . tanin merupakan salah satu senyawa metabolit
sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman . Tanin
tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk
senyawa kompleks dengan makromolekul lainya.
Dengan menggunakan daun jambu biji
dan daun jati yang masih muda , dapat memberikakn warna merah sampai coklat
pada masakan .warna merah kecoklatan yang dihasilkan lebih alami daripada warna
yang dihailkan ketika menggunakan pewarna sintesis .semakin tinggi kesadaran
konsumen untuk mendapatkan makanan yang alami, membuat zat warna asli jauh
lebih disenangi untuk digunakan dalam pengolahan makanan. Banyak warna
cemerlang yang dimiliki oleh tanaman dan hewan bisa digunakan sebagai pewarna
tambahan makanan. Sehingga pewarna sintesis dapat di tinggalkan. Dan untuk
mengethui manfaat tanin pada daun jambu biji sebagai pewarna maknana alami maka
perlu di adakan pengkajian ulang melallui beberapa penelitian
GAMBARAN KHUSUS
Kondisi Kekinian
Fenomena penggunaan pewarna buatan/sintetik pada
makanan kini semakin meluas dan sudah sangat banyak kita temui di lingkunan
sekitar . Alasan para produsen makanan lebih menggunakan
pewarna sintetis daripada pewarna alami karena dua faktor. Pertama, adalah
masalah harga. Pewarna kimia tersebut dijual dengan harga yang jauh lebih murah
dibandingkan dengan pewarna alami. Masalah ini tentu saja sangat diperhatikan
oleh produsen, mengingat daya beli masyarakat Indonesia yang masih cukup
rendah. Faktor kedua adalah stabilitas. Pewarna sintetis memiliki tingkat
stabilitas yang lebih baik, sehingga warnanya tetap cerah meskipun sudah
mengalami proses pengolahan dan pemanasan. Sedangkan pewarna alami mudah
mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Pewarna sintetis merupakan zat aditif yang ditambahkan
pada makanan yangbertujuan untuk memperbaiki warna dari makanan. Pewarna sintetis terbuatdari bahan-bahan kimia yang beraneka
ragam dan memiliki sifat yang stabil.Penggunaan pewarna sintetis di industri
makanan saat ini sangat besar, hampir90% industri makanan memilih menggunakan
pewarna sintetis. Banyaknya produsenmakanan memilih penggunaan pewarna sintetis
dikarenakan harga yang terjangkaudan kepraktisannya. Pewarna sintetisterbuat dari bahan-bahan kimia
yang asing bagi tubuh. Jika pewarna digunakan secaraberlebihan maka system
kerja tubuh bisa mengalami gangguan karena banyaknyakandungan bahan-bahan kimia
asing dalam tubuh. Penggunaan zat warna sintetis ini dapat
menimbulkan masalah kesehatan dan membahayakan kesehatan manusia serta
lingkungan hidup karena bersifat karsinogenik yang menyebabkan kanker kulit
pada manusia dan dapat merusaklingkungan (Winarno dan Laksmi, 2009).
Zat
warna alami adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh dari tumbuhan, hewan, atau dari sumber-sumber
mineral. Zat warna ini telah sejak
dahulu digunakan untuk pewarna makanan
dan sampai sekarang umumnya penggunaannya dianggap lebih aman daripada zat warna sintetis. Selain itu
penelitian toksikologi zat warna alami
masih agak sulit karena zat warna ini umumnya
terdiri dari campuran dengan senyawa-senyawa alami lainnya. Umumnya pewarna alami aman untuk digunakan dalam
jumlah yang besar sekalipun , berbeda dengan pewarna sintesis yang demi
keamanan penggunaannya harus di batasi. Pewarna makanan alami sendiri memiliki
kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan pewarna sintesis. Pewarna makanan
alami aman untuk dikonsumsi dan tidak berbahaya bagi tubuh . selain itu,
pewarna makanan juga memiliki nila gizi sehingga dapat menambahkan nilai gizi
pada produk makanan tersebut.
Salah
satu bahan pewarna makanan alami yang biasa digunakan adalah Daun jambu biji
yang biasa digunakan untuk memberi warna merah kecoklatan pada telur pindang
dan gudeg. Daun jambu biji mengandung tannin, minyak atsiri (eugenol),
minyak lemak, dammar, zat samak, triterpenoid, asam malat (Dalimartha, 2004).
Kandungan dari daun jambu biji yang dapat
memberikan warna ketika dimanfaatkan menjadi pewarna makanan alami
adalah “tanin”.Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagaisenyawa polipenol yang
mempunyai berat molekultinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan guguslainnya
(seperti karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan protein (Danarto,
dkk., 2011).
Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan
rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna)
dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan
warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin merupakan senyawa yang dapat larut
dalamair, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidaklarut dalam
petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan Lewis, 2012)
Deskripsi
Tanaman
Jambu biji berasal dari Amerika
tropik, tumbuh pada tanah yang gembur maupun liat, pada tempat terbuka dan
mengandung air cukup banyak. Pohon ini banyak ditanam sebagi pohon buah-buahan.
Namun, sering tumbuh liar dan dapat ditemukan pada ketinggian 1-1200 m di atas
permukaan laut. Jambu bji berbunga sepanjang tahun. Sekarang tanaman ini sudah
menyebar luas ke seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Diperkirakan
terdapat sekitar 150 spesies Psidium yang menyebar ke daerah tropis dan
berhawa sejuk (Hapsoh dan Hasanah, 2011).
Klasifikasi
Tanaman
jambu biji (Psidium guajava) dalam sistematika dunia tumbuhan
diklasifikasikan
menjadi seperti di bawah ini:
Divisio
: Magnoliophyta
Classis
: Magnoliopsida
Ordo
: Myrtales
Familia
: Myrtaceae
Genus
: Psidium
Spessies :Psidium
guajava, L.( Cronquist,2004).
Nama Daerah
Sumatera: glima
breueh (Aceh), galiman (Batak Karo), masiambu (Nias), biawas, jambu krutuk,
jambu krikil, jambu biji, jambu klutuk (Melayu). Jawa: jambu klutuk (Sunda),
hambu bhender (Madura). Sotong (Bali), guawa (Flores), goihawas (Sika).
Sulawesi: gayawas (Manado), dambu (Gorontalo), jambu paratugala (Makasar).
Maluku: luhu hatu (Ambon), gayawa (Ternate, Halmahera) (Hapsoh dan Hasanah,
2011).
Morfologi Tumbuhan Jambu Biji
Tumbuhan
jambu biji termasuk jenis perdu atau pohon kecil, tinggi 2-10m,percabangan
banyak. Batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna
cokelat kehijauan. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan, daun muda
berambut halus, permukaan atas daun tua licin. Helaian
daun berbentuk bulat telur agak jorong, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi
rata agak melekuk ke atas, pertulangan menyirip, panjang 6-14 cm, lebar 3-6 cm,
berwarna hijau. Buah tunggal, bertangkai, keluar dari ketiak daun, berkumpul
1-3 bunga, berwarna putih. Buahnya berbentuk bulat sampai bulat telur, berwarna
hijau sampai hijau kekuningan. Daging buah tebal, buah yang masak bertekstur
lunak, berwarna putih kekuningan atau merah jambu. Biji banyak mengumpul di
tengah, kecil-kecil, keras, berwarna kuning kecokelatan (Hapsoh dan Hasanah,
2011)


Gambar 1 daun psidium
guajavaGambar 2 batang dan buah
psidiumguajava

Gambar 3 bunga psidium
guajava
Ekstraksi
Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan
kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut
dengan pelarut cair. Hasil ekstraksi disebut dengan ekstrak, yaitu sediaan
pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau
simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir
semua pelarut diuapkan. Simplisia yang digunakan dalam proses pembuatan ekstrak
adalah bahan alamiah yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali
dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2009).
Metode yang digunakan untuk mengekstrak
daun jambu biji adalah merebus daun jambu biji dengan pelarut air dalam kurun
waktu tertentu. Waktu ekstraksi pada proses pembuatan ekstrak daun jambu biji
sangat mempengaruhi jumlah kandungan tanin yang didapat. Proses ekstraksi yang
terlalu lama akan mengakibatkan rusaknya kandungan tanin sehingga tanin pada
ekstrak daun jambu biji tidak mampu lagi memberikan warna (Jatmikoningtyas,
2004). Proses ekstraksi yang terlalu singkat akan menghasilkan kandungan tanin
yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikaji waktu ekstraksi yang optimal
sehingga menghassilkan ekstrak daun
jambu biji yang memiliki sifat fisik dan kimia yang baik serta aman untuk
dikonsumsi.
Penentuan Kadar
tanin
Tanin
merupakan senyawa utama yang terdapat pada dan jambu biji yang dapat digunakan
sebagai obat diare. Rerata kandungan tanin ekstrak daun jambu biji berkisar
antara 3,25 % – 8,98 % (Tabel-1). Tanin yang dihasilkan dalam bentuk ekstrak
daun jambu biji memiliki perbedaan yang sangat nyata (a=0,01).
Tabel 1. Rerata kandungan tanin ekstrak daun jambu biji
pada berbagai waktu ekstraksi
|
Waktu ekstraksi(menit)
|
Rerata kadar tanin (%)
|
BNT 5%
|
|
5
|
3,25 a
|
0,43
|
|
10
|
6,25 d
|
|
|
15
|
8,98 f
|
|
|
20
|
7,11 e
|
|
|
25
|
4,96 c
|
|
|
30
|
3,91 b
|
Keterangan:
Notasi yang berbeda berarti berbeda nyata BNT 5%
Kandungan tanin ekstrak daun jambu
biji cenderung mengalami
peningkatan
pada awal waktu ekstraksi sampai pada titik optimal, kemudian peningkatan waktu
ekstraksi akan cenderung menurunkan kandungan tanin. Hal ini dikarenakan pada
awal proses ekstraksi seluruh senyawa dalam daun terutama tanin akan terekstrak
keluar dan bercampur dengan pelarut (air), dan setelah mencapai titik optimal
beberapa senyawa yang terdapat dalam bahan akan mengalami penurunan. Disamping
itu penurunan tanin diduga juga disebabkan kerusakan tanin akibat proses
hidrolisis selama proses (ekstraksi) dan pemanasan yang berlangsung terus
menerus. Tanin dapat terhidrolisis menjadi glukosa dan asam tanat (Anonymous,
2005).
Dari
Gambar 4.1.dapat diketahui bahwa pada waktu ekstraksi antara 15 – 20 menit
dapat menghasilkan ekstrak daun jambu biji dengan kandungan tertinggi yaitu
sekitar 0,45 g, dan setelah 20 menit kandungan tannin mengalami penurunan.

Gambar4 Grafik
hubungan antara waktu ekstraksi dan tanin ekstrak daun jambu biji
UPAYA PROMOSI YANG DI LAKUKAN
Daun
jambu biji yang memiliki kandungan tanin
yang cukup tinggi di rekomendasikan sebagai bahan pewarna makanan alami yang
aman untuk dikonsumsi. Daun jambu biji yang di gunakan adalah daun jambu biji
yang masih muda yaitu 3 daun yang berada di pucuk . waktu ekstraksi sangat
berpengaruh terhadap hasil ekstraksi yang dilakukan . apabila terlalu lama
dalam melakukan proses ekstraksi maka kandungan tanin akan semakin sedikit .
sebaliknya, apabila proses ekstraksi terlalu lama maka kandungan tanin tidak
akan optimal sehingga diperlukan waktu yang sesuai agar jumlah tanin yang di
dapatkan optimal. Tanin secara
ilmiah didefinisikan sebagaisenyawa polipenol yang mempunyai berat
molekultinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan guguslainnya (seperti
karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan protein (Danarto, dkk.,
2011). Menurut teori warna, struktur
tanin dengan ikatan rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai
kromofor (pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat
warna) dapat menyebabkan warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin merupakan
senyawa yang dapat larut dalamair, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi
tidaklarut dalam petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan Lewis, 2009).
Proses
pengambilan tanin dapat dilakukan dengan cara ekstraksi yaitu kegiatan
penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang
tidak dapat larut dengan pelarut cair. Secara sederhana proses ekstraksi dapat
dialakukan dengan cara merebus daun jambu biji dengan pelarut air
dalam kurun waktu tertentu. Waktu ekstraksi pada proses pembuatan ekstrak daun
jambu biji sangat mempengaruhi jumlah kandungan tanin yang didapat. Proses
ekstraksi yang terlalu lama akan mengakibatkan rusaknya kandungan tanin
sehingga tanin pada ekstrak daun jambu biji tidak mampu lagi memberikan warna (Jatmikoningtyas,
2006). Proses ekstraksi yang terlalu singkat akan menghasilkan kandungan tanin
yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikaji waktu ekstraksi yang optimal
sehingga menghassilkan ekstrak daun
jambu biji yang memiliki sifat fisik dan kimia yang baik serta aman untuk
dikonsumsi.
Proses ekstraksi yang dapat
dilakukan dengan mudah, dan warna yang dihailkan lebih alami serta tidak
mempengaruhi rasa pada hasil masakan , maka daun jambu biji sangatlah baik
untuk dapat dijadikan senbagai bahan pewarna makanan alami . dengan menggunakan
pewarna alami dari daun jambu biji makanan ataupun masakan yang di hasilkan
tidak berbahaya bagi tubuh karena menggunakan pewarna alami.
UPAYA PREVENTIF
Upaya
preventif yang dilakukan dalam gagasan
ini yaitu dengan memanfaatkan tanin yang diperoleh dari daun jambu biji muda (3
daun yang bearda di pucuk) . Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagai senyawa
polipenol yang mempunyai berat molekul tinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan
gugus lainnya (seperti karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan
protein (Danarto, dkk., 2011).
Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan
rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor (pengemban warna)
dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat warna) dapat menyebabkan
warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin merupakan senyawa yang dapat larut
dalam air, gliserol, alkohol, dan hidroalkohol, tetapi tidak larut dalam
petroleum eter, benzene dan eter(Sax dan Lewis, 1989)
Proses pengambilan tanin
dari daun jambu biji dapat dilakukan dengan cara ekstraksi yaitu kegiatan
penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang
tidak dapat larut dengan pelarut cair. Secara sederhana proses ekstraksi dapat
dialakukan dengan cara merebus daun jambu biji dengan pelarut air
dalam kurun waktu tertentu. Waktu ekstraksi pada proses pembuatan ekstrak daun
jambu biji sangat mempengaruhi jumlah kandungan tanin yang didapat. Proses
ekstraksi yang terlalu lama akan mengakibatkan rusaknya kandungan tanin
sehingga tanin pada ekstrak daun jambu biji tidak mampu lagi memberikan warna
(Jatmikoningtyas, 2001). Proses ekstraksi yang terlalu singkat akan
menghasilkan kandungan tanin yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu dikaji
waktu ekstraksi yang optimal sehingga menghassilkan ekstrak daun jambu biji yang memiliki sifat
fisik dan kimia yang baik serta aman untuk dikonsumsi.
Pewarna almi sendiri ditambahkan dalam
makan bertujuan untuk 1) mengembalikan warna makanan yang berubah akibat
pengolahan menggunakan panas ke warna aslinya 2) menyeragamkan warna makanan
yang berbeda karena pengaruh alami 3) meningkatkan warna makanan yang oleh
konsumen warnanya tersebut selalu diasosiasikan dengan flafonnya 4) memberikan
penampilan yang menarik terhadap makanan 5) melindungi identitas makanan dan 6)
sebagai indikasi visual mutu
Kita ketahui bahwa menggunakan pewarna
alami lebih baik dan tidak membahayakan bagi tubuh bila dibandingkan dengan
menggunakan pewarna sintesis. Untuk itu daun jambu biji dimanfaatkan sebagai
bahan pewarna makanan alami . dalm hal ini daun jambu biji banyak dimanfaatkan
untuk memberikan warna merah sampai kecoklatan pada masakan tradisonal misalnya
pada gudeg dan telur pindang. Melalui proses ekstraksi tanin yang dapat memberikan pewarna alami bagi makanan di
ambil . setelah melakukan ekstraksi , ekstrak daun jambu biji yang mengandung
tanin dapat disimpan dalam bentuk kemasan ataupun dengan memanfaatkannya secara
langsung setelah proses esktraksi. Secara sederhana
proses ekstraksi dapat dialakukan dengan cara merebus daun jambu biji dengan pelarut air
dalam kurun waktu tertentu akan tetapi perlu di ingat bahwa Proses ekstraksi yang terlalu singkat
akan menghasilkan kandungan tanin yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu
dikaji waktu ekstraksi yang optimal sehingga menghassilkan ekstrak daun jambu biji yang memiliki sifat
fisik dan kimia yang baik serta aman untuk dikonsumsi.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini,S.2010.optimasi
formula fast disintegrating tabletekstrak daun jambu
biji (psidium guajava l.) dengan bahan penghancur sodium starch glycolate
dan bahanpengisi manitol(skripsi).surakarta:universitas muhammadiyah
surakarta.
biji (psidium guajava l.) dengan bahan penghancur sodium starch glycolate
dan bahanpengisi manitol(skripsi).surakarta:universitas muhammadiyah
surakarta.
Anonim.2012. Jambu Biji (Psidium
guajava).
http://www.agribisnis.deptan.go.id/pustaka/teknopro/leafleat%20No%20
5.htm Tanggal Akses April 2014
http://www.agribisnis.deptan.go.id/pustaka/teknopro/leafleat%20No%20
5.htm Tanggal Akses April 2014
Anonim.2005. Jambu Biji.
http://www.indomedia.com/intisari/1998/november/alternatif/html.
Tanggal akses Juli 2004
http://www.indomedia.com/intisari/1998/november/alternatif/html.
Tanggal akses Juli 2004
Departemen Kesehatan, 1989. Vademakum
Bahan Obat Alam. Dirjen POM
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. hal 84-86.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. hal 84-86.
Harbelubun,
A dkk.2005.Tumbuhan pewarna alami dan pemanfaatannya secara
tradisional oleh suku marori men-gey di taman nasional wasurkabupaten
merauke.jurnal penelitianVolume 6, Nomor 4 Oktober 2005
Halaman: 281-284
tradisional oleh suku marori men-gey di taman nasional wasurkabupaten
merauke.jurnal penelitianVolume 6, Nomor 4 Oktober 2005
Halaman: 281-284
Heyne. K. 1987. Tumbuhan berguna
Indonesia. Jilid III. Badan Litbang
Kehutanan, Jakarta. hal 1506-1507.
Kehutanan, Jakarta. hal 1506-1507.
Husodo, T. 1999. Peluang Zat
Pewarna Alami untuk Pengembangan Produk
Industri Kecil dan Menengah Kerajinan dan Batik. Yogyakarta:
Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
Industri Kecil dan Menengah Kerajinan dan Batik. Yogyakarta:
Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
Rudi,N.2009.Tanin
pada Daun jabu biji (Psidium
guajava L.) (Kajian Variasi Pelarut).
(Skripsi). Malang : Universitas Islam Negeri Mualana Malik Ibrahim Malang.
Sudarmadji, S., B. Haryono, dan Suhardi. 2005. Prosedur Analisa
untuk Bahan
Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta.
Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta.
Sukardi,
Mulyarto,R.,dan Safera,W.2007.Optimasi Waktu Ekstraksi Terhadap
Kandungan Tanin Pada Bubuk Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidii folium)
Serta Biaya Produksinya.Jurnal Teknologi Pertanian, Vol 8 No.2
Kandungan Tanin Pada Bubuk Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidii folium)
Serta Biaya Produksinya.Jurnal Teknologi Pertanian, Vol 8 No.2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar